Minggu, 16 November 2014

Dia

Teriakku tanpa terdengar
Jeritku tanpa suara
Isakku tanpa derai air mata
Musnah...
Hilang...
Seakan tak ingin melukis bayang

Mengapa meninggalkan abu,
bila hanya ingin bermain api?

Mengapa menyisakan sayup tawa,
bila hanya ingin bercengkerama?

Garis senyum yang hanya sekilas
Sapaan hangat tanpa perlu memelas
Cukup!
Sudah!

Biarkan abu tetap menjadi abu
Sayup tawa yang selalu terdengar layaknya senandung
Kini kuangkat kepala, dan mulai berjalan
Beratnya langkah hingga berlalu pelan

Senyum mu,
Gaya mu,
Langkah mu,
Ah sudahlah...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar