Minggu, 16 November 2014

Dia

Teriakku tanpa terdengar
Jeritku tanpa suara
Isakku tanpa derai air mata
Musnah...
Hilang...
Seakan tak ingin melukis bayang

Mengapa meninggalkan abu,
bila hanya ingin bermain api?

Mengapa menyisakan sayup tawa,
bila hanya ingin bercengkerama?

Garis senyum yang hanya sekilas
Sapaan hangat tanpa perlu memelas
Cukup!
Sudah!

Biarkan abu tetap menjadi abu
Sayup tawa yang selalu terdengar layaknya senandung
Kini kuangkat kepala, dan mulai berjalan
Beratnya langkah hingga berlalu pelan

Senyum mu,
Gaya mu,
Langkah mu,
Ah sudahlah...



Sabtu, 15 November 2014


"Bayangan yang akan selalu menjadi bayangan"
-D-

Apa Kabar Kau, sang Pujangga?

Saat hati terasa pilu
Butiran kata terkesan keluh
Bibirku terpaku, menemani langkah yang kaku

Apa kabar kau, sang pujangga?
yang hanya bisa tersenyum tanpa berkata
Tatapan mata dibawah langit jingga
Berakhir pada hati yang terpenjara

Kutanya mengapa kembali?
disaat tawa mengisi hari...

Kusentuh tanpa kusentuh,
hanya sebuah tanya kau tinggalkan

Enam tahun kubiarkan waktu berlari
Sampai hari tak terasa lagi
Hingga si arjuna kusakiti

Meringkup dalam kebohongan,
tersayat dalam penantian

Kabut tersingkap,
membuang pekat
Hentak kakimu terdengar,
kikuk akan pesona yang terpapar

Haruskah tanganku menggapai?
Membawa hati untuk kau pakai.

-D-



Sabtu, 08 November 2014

Dentingan Hujan

Semilir angin mengoyakan setiap helai rambutku
Bau hujan yang lama kurindu kembali mengampiri
Pedihnya suara daun kering yang hancur dibawah kaki
Setapak demi setapak kaki ini berlenggok diatas bumi
Mencoba berjalan dari hulu ke hilir

Pikiranku menari dengan indahnya jauh disana
Ditempat dimana kita bersua
Tak dapat yang banyak kulontarkan saat ini
Hanya ingin merasakan setiap jentikan jarimu
Setiap hangatnya pelukmu bagai sang fajar yang memeluk bumi
Renyahnya tawamu cukup untuk membuatku meringis
Seperti sayup-sayup terdengar kalimat indahmu

Genggam tanganmu yang katanya tak akan terlepas
Namun apa daya, waktu memaksa sekuat tenaga untuk memisahkan dua tangan dimabuk asmara
Jarak yang kita miliki cukup untuk menjelaskan keabu-abuan
Setiap detik yang hanya singgah sebentar, membuat kita tersadar

Tawa canda yang dulu mengalahkan gemuruh hujan
Perih tangis yang dulu mencakar jiwa
Serta lembut pelukan yang menenangkan hati
Sungguh membuatku terbang tinggi diatas sana
Terbang sampai aku tersesat sendiri

Matamu yang bahkan membuatku lupa bahwa kita berbeda
Membuatku lupa bahwa ada tembok besar yang menghalangi
Hanya berkeliling mengitari tembok tersebut tanpa bisa menembusnya
Ketika semua mata memandangku dengan sinis,
Aku pun tak berani mendongakkan kepala
Aku tidak lagi berani beralibi
Semua pesan seakan tersirat bahwa inilah kenyataannya
Kenyataan bahwa kita berbeda.

-D-